Sabtu, 15 Agustus 2015 

Refleksi Jalan Malioboro


jalan-malioboro4

Oleh: Deddy Pranata 

PERNAH suatu ketika saat duduk menyendiri di dalam keramaian di sebuah sudut jalan di Yogyakarta, kerling mataku tak hentinya menatap lalu lalang manusia dan aneka ragam kendaraan mulai dari mobil, motor, bis kota, sepeda, becak bahkan dokar yang kerap mengisi imajinasiku dalam merangkai kata di hamparan aspal yang menamakan dirinya Malioboro.

Sebuah jalan “biasa” dengan panjang hanya kurang dari 2 kilometer, diukur dari pintu lintasan KA stasiun Tugu sampai pada persimpangan jalan yang disambut langsung Benteng Van De Berg. Jika kita ambil jalan lurus, maka sampailah pada sebuah bangunan istana megah peninggalan masa feodal yang ternyata masih sangat kental mengakar pada masyarakat Yogyakarta.

Secara resmi, jalan Malioboro sebenarnya hanya 500 meter sampai pada pertigaan Pasar Beringharjo dan bersambung dengan nama jalan lainnya. Namun hampir semua orang menyebut jalan yang membentang sampai pada pada Benteng Van De Berg dengan sebutan Malioboro.

Ada banyak hal menarik jika kita bicara tentang jalan Malioboro, jalan yang begitu terkenal di Indonesia bahkan dunia sehingga setiap orang begitu penasaran jika belum melintas dan menikmati aroma kebudayaan yang tetap terjaga apa adanya namun menyimpan semacam zat aditif untuk kembali berkunjung.

Musisi senior seperti Katon Bagaskara bahkan sengaja menciptakan lagu berjudul “Jogjakarta” yang konon terinspirasi dari musisi jalanan Malioboro. Turis mancanegara pun merasa aman melintas bahkan tak canggung berjalan kaki dan berbaur dengan wisatawan domestik

Sebenarnya apa istimewanya jalan Malioboro dengan puluhan juta jalan lain di Indonesia khususnya jalan di wilayah Sumatera Selatan? Apa faktor sedemikian gaungnya jalan Malioboro sehingga menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan domestik dan mancanegara?

Akan banyak pertanyaan lain timbul jika membahas jalan Malioboro, padahal itu hanya sebagian kecil dari tempat wisata yang ada di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dapatkah potensi pariwisata di daerah Sumatera Selatan setidaknya mengikuti jejak Yogyakarta jika belum sanggup untuk bersanding bahkan melampauinya?

Potensi Wisata Sumatera Selatan

Provinsi Sumatera Selatan merupakan suatu kawasan seluas 87.017 kilometer persegi di Indonesia Bagian Barat yang terletak di sebelah Selatan garis khatulistiwa. Bagian daratan provinsi ini berbatasan dengan provinsi Jambi di sebelah Utara. Provinsi Lampung di Selatan dan provinsi Bengkulu dibagian Timur dibatasi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Sumatera Selatan dikenal juga dengan sebutan Bumi Sriwijaya karena wilayah ini pada abad 7-12 Masehi merupakan pusat kerajaan maritim terbesar dan terkuat di Indonesia yang berpengaruh sampai ke Formosa dan Cina di Asia serta Madagaskar di Afrika.

Gunung Dempo dan kebun teh terhampar luas dan indah berada di Kabupaten Pagaralam

Gunung Dempo dan kebun teh terhampar luas dan indah berada di Kabupaten Pagaralam

Pariwisata di daerah Sumatra Selatan sebenarnya cukup potensial untuk dikembangkan. Daerah ini memiliki obyek wisata yang beraneka ragam, baik wisata alam, sejarah maupun budaya. Sumsel juga memiliki obyek wisata berupa gunung-gunung dengan flora dan fauna yang beragam, sungai, danau dan aneka ragam tradisi serta budaya yang unik dan menarik. Ditambah lagi dengan wisata kuliner yang tentunya dapat menggugah selera dengan beragamnya alernatif makanan yang ditawarkan.

Wisata alamnya antara lain Danau Ranau, panorama air terjun yang terdapat di Kabupaten Muara Enim dan Lahat, Bukit Serelo, Bukit Serelo terletak sekitar 20 km dari kota Lahat. Penduduk setempat menyebutnya Bukit Tunjuk karena bentuk puncaknya yang mirip telunjuk yang mencuat ke langit, Gunung Dempo, serta pemukiman suku terasing Anak Dalam dan Kubu.

Wisata sejarahnya antara lain situs peninggalan kerajaan Sriwijaya berupa batu purbakala, patung kuno, dan museum di Palembang, kompleks Pemakaman di Bukit Siguntang serta Benteng Kuto Besak.

Peninggalan kebudayaan megalit yang merupakan hasil kreasi seni pahat para nenek moyang, terdiri dari arca-arca batu berbentuk manusia, binatang, menhir, dolmen, punden berundak, kubur batu, lumpang batu dan sebagainya yang berukuran kecil sampai raksasa juga ada di Sumatera Selatan.

Bukti-bukti peradaban pada masa 2500 – 1000 tahun sebelum Masehi itu tidak hanya mengesankan bagi wisatawan asing maupun domestik, tetapi juga bagi para ahli yang acapkali datang melakukan penelitian ilmiah.

Di alam terbuka, situs-situs megalit itu sebagian besar terdapat di Kabupaten Lahat, Ogan Komering Ulu dan Muara Enim. Keberadaan benda-benda megalit itu telah melahirkan berbagai legenda dan mitos di kalangan masyarakat Sumatera Selatan. Diantaranya legenda Si Pahit Lidah yang karena kesaktiannya mampu membuat apapun yang tidak disukainya menjadi batu.

Salah satu Megalith diantara ribuan situs yang terdapat di Kabupaten Lahat

Salah satu Megalith diantara ribuan situs yang terdapat di Kabupaten Lahat

Pada abad 7-13 Masehi, Sumatera Selatan merupakan pusat kekuasaan kerajaan Sriwijaya dan Palembang sebagai ibukota kerajaan. Di masa jayanya Sriwijaya dikenal sebagai pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan mengenai agama Budha terbesar di Asia Tenggara.

Potensi besar yang dimiliki sunga Musi sudah menjadi ikon Sumatera Selatan juga menjadi daya tarik tersendiri. Dari data Balai Musi, kini panjang Sungai Musi sekitar 622 kilometer. Dan jika ditambah dengan panjang sungai besar lain beserta anak-anaknya, maka panjangnya berkisar 10.000 kilometer. Sungai besar yang ada di Sumatera Selatan berkisar 56 sungai, diantaranya Musi, Sugihan, Mesuji, dan Komering. Sementara anak sungainya sebanyak 148 buah.

Dari puluhan sungai itu, ada delapan sungai besar yang menyatu dengan Sungai Musi, yakni Sungai Batanghari Leko, Sungai Lalan, Sungai Lakitan, Sungai Kelingi, Sungai Rawas, Sungai Lematang, Sungai Ogan, dan Sungai Komering. Pertemuan delapan sungai dengan Sungai Musi menjadikan Sumatera Selatan disebut sebagai “Negeri Batanghari Sembilan”. Hulu Sungai Musi sendiri berada di gugusan Bukitbarisan, sedangkan muaranya ada di pesisir Timur pulau Sumatera bagian Selatan.

Dengan sederet lokasi wisata menarik yang ada di Sumatera Selatan, ada satu hal pertanyaan mendasar, kenapa wisatawan lebih tertarik datang dan melintasi sebuah jalan di kota Yogyakarta bernama Malioboro dibanding potensi wisata yang sangat beragam yang ada di Sumatera Selatan? Ada beberapa faktor yang seharusnya menjadi perhatian stake holder pariwisata di Sumsel.

Kebijakan Pemerintah Daerah

Pemerintah provinsi Sumatera Selatan selaku pemegang kebijakan, telah melakukan beberapa hal guna mendongkrak jumlah kedatangan wisatawan. Dalam beberapa tahun terakhir, kunjungan wisatawan ke Sumatera Selatan masih tergantung ada tidaknya agenda MICE (Meeting, Incentive Converence Exhibition).

Semakin banyak agenda MICE diadakan di Sumatera Selatan maka semakin tinggi kunjungan wisatawan. Untuk dapat mendatangkan MICE di Sumatera Selatan kuncinya ada pada kementerian. Disinilah letak peran sentral pemerintah provisi Sumatera Selatan untuk dapat melobi kementrian agar pertemuan, konferensi atau event dilakukan di Sumatera Selatan yang secara otomatis akan berdampak pada kenaikan jumlah kunjungan wisatawan.

Dari sisi anggaran, pemerintah provinsi Sumatera Selatan mengalokasikan anggaran pariwisata yang cukup besar. Promosi dan pengenalan objek wisata kepada calon wisatawan, dirasa masih kurang efektif. Jika tidak ada agenda MICE, wisatawan yang sengaja datang berkunjung ke Sumatera Selatan masih jauh dari harapan.

Belum adanya objek wisata alam unggulan seperti danau Toba di Sumatera Utara, pantai Ujung Tinggi di Belitung sampai pantai Kuta di Bali, menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagaimana stake holder pariwisata Sumatera Selatan mampu mendongkrak beberapa objek wisata alam menjadi magnet bagi wisatawan.

_IMG_000000_000000Langkah pemerintah provinsi Sumatera Selatan yang membuat produksi film layar lebar “Pengejar Angin” dan “Gending Sriwijaya” merupakan sebuah langkah promosi briliant setelah Bangka Belitung sukses memancing wisatawan berkunjung ke daerah tersebut melalui film “Laskar Pelangi” dan “Sang Pemimpi”.

Gebrakan Alex Noerdin selaku Gubernur Sumatera Selatan yang menggandeng sutradara handal Hanung Bramantyo dalam membesut film yang mengambil tema dan lokasi pengambilan gambar di beberapa wilayah di Sumatera Selatan, layak mendapat apresiasi luar biasa. Bahkan tiga nominasi piala citra pada ajang Festival Film Indonesia dan satu piala citra berhasil diraih film Pengejar Angin, membuktikan film tersebut mempunyai kualitas yang diakui secara nasional.

Namun, promosi wisata melalui film Pengejar Angin ataupun Gending Sriwijaya untuk mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan ke Sumatera Selatan, akan terasa sia-sia jika tidak dilanjutkan dengan peningkatan sarana penunjang dan infra struktur lainnya terutama di kabupaten/kota yang mendapat anugerah dari Tuhan sebuah potensi keindahan wisata alam.

Tanggung jawab promosi dan kelengkapan lainnya tidak hanya tertumpu pada pemerintah provinsi Sumatera Selatan saja, namun dukungan dan sinergitas dari semua Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan, serta dinas terkait sangat dibutuhkan jika tidak ingin membuat potensi wisata alam hanya sebatas papan nama dan apa adanya.

Masyarakat Sumatera Selatan

Penduduk asli Sumatera Selatan terdiri dari beberapa suku yang masing-masing mempunyai bahasa dan dialek sendiri. Suku-suku tersebut antara lain suku Palembang, Ogan, Komering, Semendo, Pasemah, Gumay, Lintang, Musi Rawas, Meranjat, Kayuagung, Ranau, Kisam, dan lain-lain. Dalam kehidupan sehari-hari, semua suku ini hidup berdampingan dan saling membaur dengan suku-suku pendatang termasuk dengan orang asing. Bahkan banyak terjadi perkawinan antar suku.  

Setiap suku memiliki adat-istiadat dan tradisi sendiri yang acapkali tercermin dalam upacara perkawinan dan peristiwa-peristiwa penting suatu suku. Bahkan suku-suku di Sumatera Selatan memiliki seni dan budaya sendiri yang saling berbeda satu sama lain.

Meski tiap kelompok etnik memiliki corak khas dalam kebudayaan dan struktur bahasa sendiri, namun tetap merupakan kesatuan yang sulit dipisahkan satu sama lain dalam lingkungan hukum adat di daerah Sumatera Selatan. Mereka juga saling mempengaruhi sehingga unsur kebudayaan yang satu terdapat juga pada kebudayaan suku lainnya. Hal ini disebabkan adanya proses difusi, akulturasi dan adaptasi.

Kesatuan dan keseragaman kebudayaan dalam suku bangsa disadari sendiri oleh para warganya. Keberagaman masyarakat Sumatera Selatan, sedikit banyak juga berpengaruh pada bidang pariwisata. Tanpa disadari, kekayaan budaya masing-masing suku dan daerah sebenarnya merupakan objek menarik dari para wisatawan yang ingin mempelajari atau melakukan penelitian.

Karakter masyarakat Sumatera Selatan juga menjadi faktor peting dalam pertimbangan wisatawan untuk berkunjung diluar agenda MICE. Tingkat kriminalitas yang masih cukup tinggi tentu saja menjadi pertimbangan calon wisatawan untuk memasukkan nama Sumatera Selatan dalam agenda perjalanan wisatanya.

Beberapa langkah nyata sudah dijalankan pihak keamanan guna memberantas tindak kriminal untuk memberi rasa aman dan nyaman selama berkunjung di Sumatera Selatan. Kampanye dan tindak pencegahan terhadap kriminalitas harus terus dilakukan agar mengikis rasa ragu serta ketakutan.

Kesadaran akan pentingnya menjaga Kamtibmas di wilayah Sumatera Selatan, hendaknya dimiliki oleh setiap lapisan masyarakat karena selain faktor sarana dan promosi, keamanan juga menjadi faktor penentu saat wisatawan memutuskanakan berkunjung ke suatu wilayah.

Fasilitas dan Sarana Penunjang

Pintu masuk menuju Sumatera Selatan sebenarnya cukup mudah bagi wisatawan yang ingin berkunjung. Terminal, stasiun, pelabuhan dan bandara internasional dapat menjadi pilihan. Fasilitas-fasilitas akomodasi seperti hotel-hotel berbintang sampai penginapan yang paling murah, sarana-sarana olahraga seperti lapangan golf sampai sanggar aerobik dan tempat-tempat rekreasi tersedia dalam jumlah yang memadai yang semuanya dirancang untuk membetahkan para wisatawan berkunjung ke Sumatera Selatan.

Bandara Internasional Sultan Mahmud Baddarudin II Palembang, sebagai salah satu gerbang masuk ke Sumatera Selatan

Bandara Internasional Sultan Mahmud Baddarudin II Palembang, sebagai salah satu gerbang masuk ke Sumatera Selatan

Sementara untuk kunjugan wisata alam di Sumatera Selatan belum tergarap dengan baik, seperti Danau Ranau, Wisata Gunung Dempo, Gua Putri masih banyak lagi saat ini masih belum jadi andalan. Hal ini lebih disebabkan faktor infrastruktur jalan dan fasilitas lainnya menuju objek wisata kurang memadai.

Berbagai souvenir yang mengesankan untuk dibawa pulang juga tersedia seperti songket, kerajinan kayu, kerang, keramik, timah, batu-batu permata, bahkan wisata kuliner. Sentra-sentra industri souvenir sudah berkembang guna memenuhi kebutuhan cinderamata khas Sumatera Selatan.

SEA Games “Ambassador” Wisata

Perhelatan akbar pesta olahraga negara Asia Tenggara SEA Games XXVI di Sumatera Selatan November 2011 lalu, selain membawa misi tri sukses yakni sukses penyelenggaraan, sukses prestasi dan sukses pemberdayaan ekonomi, Sea Games juga membawa makna khusus bagi perkembangan dunia wisata di Sumatera Selatan. Selama kurang lebih 11 hari pelaksanaan mampu sedikit mencuri perhatian dunia kepada tuan rumah dengan segala potensi yang ada di Sumatera Selatan khususnya parwisata.

Ribuan atlet, official dan wartawan peliput SEA Games telah melihat secara langsung Sumatera Selatan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tolak ukur kebehasilan SEA Games menjadi ambassador wisata Sumatera Selatan akan dipertaruhkan pasca pelaksanaan event dua tahunan tersebut. Jika tahun 2011 kunjungan wisatawan Sumatera Selatan terdongkrak oleh SEA Games sehingga bisa melonjak hingga 200 persen. Pasca SEA Games, geliat pariwisata Sumatera Selatan kembali diuji pada tahun-tahun berikutnya. Mampukah Sumatera Selatan tetap menarik untuk dikunjungi walau tanpa event atau pertemuan apa pun?

Pariwisata Menjadi Mariwisata

Jika faktor kebijakan pemerintah daerah, masyarakat serta fasilitas dan sarana penunjang telah bersinergis dengan baik sehingga mampu menciptakan suasana wisata kondusif di Sumatera Selatan. Langkah selanjutnya adalah bagaimana merubah Pariwisata menjadi Mariwisata dalam artian secara nyata para wisatawan datang ke lokasi wisata yang ada di Sumatera Selatan.

Layaknya jalan Malioboro di Yogyakarta yang selalu ramai wisatawan domestik dan mancanegara yang sengaja datang berlibur tanpa harus khawatir akan keamanan dan fasilitas penunjang sehingga menjadikan jalan Malioboro menjadi salah satu tujuan utama wisata di Indonesia.

Bukan tidak mungkin Sumatera Selatan mengikuti jejak daerah lain yang mempunyai ikon wisata unggulan yang dikenal secara nasional dan dunia. Dalam persaingan industri wisata, faktor penentu lebih condong pada kemasan yang ditawarkan. Sebagai Sebagai bahan perbandingan, bagaimana strategi Yogyakarta mengemas promosi dengan tajuk “Never Ending Asia” mampu melahirkan jalan Malioboro sebagai produk unggulan wisata dunia.

Pekerjaan rumah akan menanti para stake holder wisata di Sumatera Selatan yang diharapkan mampu merubah Pariwisata menjadi Mariwisata dengan segala potensi yang dimiliki oleh objek wisata alam, wisata sejarah, wisata religius, wisata budaya sampai wisata kuliner yang tersebar di seluruh wilayah Sumatera Selatan agar tidak semakin tertinggal dengan sebuah ruas jalan bernama Malioboro.


[mashshare]

Leave a Reply


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *